Sabtu, 03 Desember 2016

Kisah Rasulullah SAW sebelum meninggal

Mungkin kisah ini sdh berulang kali kita baca..
Tp gk pernah bosan dan selalu disertai kesedihan dan air mata

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal._*

Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi.  beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba2 bangun seorang lelaki yang bernama *UKASYAH,* seorang sahabat *mantan preman* sebelum masuk Islam, dia berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,

Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.

Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja kita menangis.

Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Dosa-Dosa Khas Wanita

Beberapa Dosa2 Khas Wanita yang Paling diMurkai Allah;
         
  Dikutip dari  Akhmad Khotib

1.Syirik

2.Murtad

3.Berpergian tanpa izin suami

4.Berpergian tanpa Mahram

5.Mencukur alis dan bertato

6.Menyerupai Laki-Laki

7.Berdandan Menor

8.Berpakaian tapi telanjang

9.Berpakaian berlebihan

10.Tidak menutup aurat

11.Menyemir rambut dengan warna hitam

12.Meratap dan meraung-raung

13.Tidak menzakati perhiasan

14.Menolak ajakan suami

15.Mengumbar rahasia persetubuhan

16.Bersetubuh dihadapan orang lain

17.Bersetubuh saat haid

18.Bersetubuh pada siang puasa

19.Bersetubuh saat melakukan ibadah haji

20.Masturbasi

21.Oral Seks

22.Anal Seks

23.Lesbian

24.Zina

25.Selingkuh

26.Poliandri

27.Durhaka kepada orang tua/Mertua

28.Jelek perangai kepada saudara

29.Jelek perangai kepada suami

30.Memperlakukan suami dengan buruk

31.Menyakiti hati suami dengan lidas

32.Menjelek-jelekkan suami

33.Berprasangka Buruk kepada suami

34.Berdandan untuk selain suami

35.Durhaka pada suami

36.Nusyuz (pengingkaran dan perlawanan)

37.Memasak makanan haram

38.Tidak memedulikan najis

39.Membunuh suami sendiri

40.Mendorong suami untuk korupsi

41.Memanfaatkan kelemahan suami untuk menghancurkan

42.Tidak adil diantara anak

43.Berlaku kasar kepada anak

44.Menelantarkan anak

45.Tidak mendidik anak dengan baik

46.Memaksa anak berbuat dosa

47.Melaknak anak shalih

48.Tidak belajar ilmu tentang haid

49.Mengugurkan kandungan(aborsi)

50.Membatalkan pernikahan karena kepergian suami

51.Permintaan talak tanpa sebab yang diperbolehkan

52.Miskin rasa malu

53.Memandang dengan penuh nafsu pada lelaki lain

54.Berkhalwat dengan lelaki tanpa mahram

55.Mengadu domba

56.Ngerumpi

57.Menggunjing (Ghibah)

58.Memfitnah

59.Buruk kata dan ucapan

60.Kikir

61.Berlagak sok wanita shalihah

Sumber;
Khotib,Ahmad, 2016, dosa-dosa khas wanita yang paling dimurkai Allah, Yogyakarta, Safira, Hal.14-226

Games Uji Nyali Sedekah


GAMES
UJI NYALI SEDEKAH;

Ketika ada dimasjid dihadapan kita ada kotak jurusan surga (kotak amal) atau saat kita d mall, didepan kita duduk seseorang Petugas bank Allah (peminta-minta), maka cobalah ambil sejunlah uang dari dompet dan langsung masukan kekotak amal atau pemia-minta yang ada dihadapan anda

Aturan Main;
😊 Sebelum melakuan permainan ini, maka tidak diperbolehkan mengatur uang yang ada di dompet anda, tidak boleh mengurutkan uang anda atau menseleksi uang anda, Masukan sejumlah uang yang anda miliki dari yang terkecil sampai terbesar apa adanya;
😉Jangan memilih berapa yang akan anda ambil dari dompet anda;
😀Jangan melihat berapa uang yang akan anda ambil dari dompet anda;
😃Anda harus langsung memberikan tanpa harus menimbang-nimbang lagi;
😄Anda  boleh melihat uang yang anda sedekahkan itu ketika uang sudah 80% masuk dalam kotak atau uang itu sudah digenggam oleh si peminta-minta;
😆Anda tidak diperkenankan meminta kembalian dari jumlah uang yang anda berikan;



Catatan;
-Jika uang yang anda sedekahkan itu sebanyak Rp.10.000 ribu merasa tenang -tenang saja, maka anda lanjutkan untuk mengulangi permainan ini kembali pada hari atau minggu berikutnya.
Untuk melanjutkannya maka didompet anda tidak boleh ada uang Rp.10.000,- kebawah. Uang yang ada didompet anda harus Rp.20.000,- keatas.
Lakukan lagi permainan ini dengan cara yang sama sbgmana cara pertama

Jika pada permainan ledua anda memasukan uang Rp.20.000,- dan hati anda tetap tenang maka pada permainan berikutnya anda harus mengatur sedekah anda harus lebih dari Rp.20.000,-
Uji nyali ini dilakukan terus menerus sampai pada anda merasa berat.
Misal Rp.50.000 sehingga saat makan, sholat dan tidur pun menjadi tidak tenang maka berhentikan karena secara sederhana sudah diketahui tingkat keikhlasan anda bersedekah 😊

Dari permainan ini dapat diukur batas tertinggi nominal sedekah yang kita merasa tenang-tenang saja (ikhlas)

Dan kalau dimasukan kedalam rumus matematika maka jumlah uang itu akan dikalikan 700×lipat sehingga jika kita merasa ikhlas dgn jmlah sedekah Rp.50.000 dpt dikatakan batas rezeki kita yang disediakan Allah 5.000x700=35.000.000 itupah jaminan rezeki yang sewaktu2 dapat dicairkan di Brankas Allah"😊

Sumber;
Soltoni,Ahmad, 2007, Sang Maha-Segalanya Mencintai, Salatiga, Stain Salatiga Press,  Hal.126-128

Selasa, 09 Agustus 2016

Untukmu kekasihku

               Wahai calon imamku, jika saat indah itu datang, dengan segala keterbatasanku, aku berharap kau kan menjadi penyempurnaku. Saat aku berada dalam kelemahan, rengkuhlah aku dalam hangatnya kasih sayangmu, saat aku lalai dengan tanggungjawabku, arahkan aku dengan untaian penyejuk dari lisanmu, jika aku salah arah bimbinglah aku agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah, dan saat amarahku membendung jadikanlah dirimu sebagai penyejuk hati dengan perhatian tulusmu.

Senin, 08 Agustus 2016

Menjemput Hidayahku

Aku bukan wanita yg sempurna, bukan juga muslimah yang alim.

Suatu ketika kau akan melihatku mengulurkan hijabku,  dan suatu kali pula kamu melihat bajuku yang tdk longgar. Tolong jgn salahkan jilbabku, jgn salahkan bajuku yg tdk sesuai, jgn salahkan agamaku, jgn salahkan status muslimahku itu adalah murni salah diriku. Bukan apa yg menempel padaku.

Setiap kali aku memakai baju yg tak sesuai,seringkali itu karena aku merasa percaya kepada diriku n tak menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. Atau krn akal fikirku yg labil n kelabu

Suatu kali kau akan mendengar byk nasehat terurai dr mulutku. Dengan yakin aku mengatakannya. Tp kali lain, kau melihatku juga melanggarnya. Tolong jgn salahkan nasehat yg pernah terucap. Jgn bandingkan dgn sikapku yang tak sesuai.

Aku manusia biasa. Sangat biasa. Tdk istimewa. Tp sangat ku syukuri bagaimana aku di ciptakan dan itu pula yang membuatku malu. Betapa aku diciptakan sebaik ini, namun malah masih mengotori kesempurnaan yg sudah diberikanNya.

Setiap kali kau melihatku dgn gamis n jilbab yg terulur. Itu bukan karena aku alim. Itu krn aku merasa nyaman dengan itu. Atau krn aku merasa memang seharusnya begitu. Atau juga kadang aku merasa malu. Ya malu.
Kala aku banyak menasehati. Itu bukan krn aku benar dan tak pernah melakukannya. Percayalah. Aku hanyalah seorang pendosa. Sprti manusia lainnya. entah bagaimana jika Allah tak menutupi aib-aibku. Kala aku menasehati itu karena mungkin aku sudah merasakan n melakukannya sehingga aku tak mau juga terjadi atau dilakukan oleh org2 dekatku. Itu saja.

Maafkan aku dgn ketidak sempurnaanku, tp inshaAllah semoga perbaikanku berjalan terus..
Maafkan lisanku yg masih sering melukai banyak hati, n telingaku yg tak mendengar banyak nasehat,
Jika ada yg salah padaku, tolong, ingatkan aku, ingatkan aku pelan-pelan...
Syukron

Sabtu, 28 November 2015

Sekeping Perjalanan Cinta

Sekeping Perjalanan Cinta


Angan dan hasrat sirna ditelan senja..
Jiwa merona bersama cinta yang tumbang.
Hati pun hancur Bagai teriris pisau dusta.

Tuhan, Rasanya perih sekali
Jeritan kecil yang tak pernah terdengar
 Air mata yang tak dapat menetes
dengan rintihan yang tak pernah terjamah dalam kalbu.



Tuhan, 
kini aku tak ingin kembali memaksaMu untuk mempertemukan dengan seseorang yang kucinta, 
bukan aku berputus asah,

Aku hanya inginkan diri menjadi pribadi tawakal.

Menyerahkan sepenuhnya yang tak dapat kuupayakan, karena
 Engkaulah sebaik-baiknya penentu alur kehidupan.


Dan bila mana harus jatuh cinta kembali, jatuh cinta kan lah aku kepada laki2, yang Engkau ridhoi, yang mampu  menghapus dukaku, membimbingku mendekatkanku kepadamu, Menjadi penegur saat taatku luntur, menjadi penasehat ketika bermaksiat, dan menjadi pelipur saat semangatku luntur. 





Kamis, 19 Juni 2014

Demi Rakyat


DEMI RAKYAT
Nur Rohim
Februari 2014

Nabi Muhammad Saw
 Muhammad Saw, yang dijuluki Al-Amin1 menjalani hidupnya dengan amat sederhana, Statusnya sebagai kepala Negara dan rosul terakhir bagi semesta alam tak serta-merta membuatnya bermewah-mewahan dalam menjalani hidupnya. Padahal, jika Ia mau bukit-bukit di makkah akan di ubah menjadi emas oleh Allah Swt, untuk-Nya. Tetapi Ia memilih untuk hidup sederhana, Ia hidup dengan sehari makan dan lapar pada hari berikutnya, agar tetap ingan kepada Allah Swt, dalam keadaan kenyang maupun Lapar.
                                Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat Muhammad Saw., Umar bin Khatab, bercerita bahwa ia pernah masuk kedalam rumah Muhammad Saw. Saat itu,  Muhammad Saw sedang berbaring di atas tikar, Umar pun duduk di samping Muhammad Saw, yang kemudian menurunkan kain sarungnya. Dengan Jelas, ia melihat bekas tikar menempel di tubuh Muhammad Saw. Ia kemudian menebarkan pandangan ke dalam Saw. Ia menebarkan pandangan ke dalam rumah sang Nabi. Ia melihat segenggap gandum, dua penyamak kulit, dan sehelai kulit binatang yang samakannya belum sempurna. Seketika itu pula air matanya berjatuhan melihat betapa sederhananya kehidupan Muhammad Saw
                Melihat Umar menangis, Muhammad Saw, lalu bertanya padanya,” Gerangan apakah yang membuatmu Menangis putrak Khatab?” Lalu, ia menjawab,” Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan dibelikat Engkau terlihat bekas tikar dengan jelas, aku juga tidak melihat selain apa yang aku lihat? Sedangkan aku tau, Raja Romawi dan Perssia bergelimang buah-buhan serta harta. Engkau adalah uturan Allah dan hamba pilihan-Nya, tapi hanya ada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.”
                Mendengar jawaban Umar bin Khatab, Muhammad Saw. Lalu berkata” Wahai putra Khatab, apakah kamu tidak rela jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?, “aku rela”. (HR.Hakim, Ibnu Hibban, dan Ahmad.)
                Nabi Muhammad Saw sebagai seorang manusia pilihat Allah yang diutus untuk memperbaiki akhlak manusia tidak serta-merta membuatnya untuk memperbaiki hidup yang mewah. Ia memilih untuk hidup yang sederhana agar bisa merasakan lapar dan dahaga seperti yang dirasakan kaum fakir dan miskin, dengan begitu, rasa sombong tidak muncul dihatinya.
                Kecintaan Muhammad Saw terhadap rakyat di kota Madinah saat ia berada disana maupun kepada umatnya sekarang yang ada di seluruh penjuru dunia sudah tidak di ragukan lagi. Ada banyak kisah yang menunjukan betapa ia amat mencintai rakyat dan umatnya, bahwan lebih dari kecintaanya pada diri sendiri.
Hari itu Umat islah di kota Madinah sedang merayakan hari raya Idul Fitri, Seprti biasa Muhammad Saw berkunjung dari satu rumah kerumah lainnya untuk bersilahturahkmi dan menebarkan doa kepada umat Islam,. Kebahagiaan pun menyelimuti kota madinah terutama anak-anak yang berlari-lari denga senang memakai pakaian hari raya mereka. Ditengah perjalanan Muhammad saw menemukan anak kecil sedang duduk bersedih dengan pakaian yang penuh tambalan, lalu dihampiri anak kecil itu yang lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah, Kemudian menangis tersedu-sedu. Muhammad Saw dengan tangan yang lembut mengelus-ngelus kepada naka kecil tersebut dan bertanya kepadanya, “Kenapa kau menangis anakku?”
Anak kecil tersebut dan terkejut dengan pertanyaan tersebut, tanpa mengangkat wajah dan tanpa melihat siapa yang bertanya, lalu ia berkisah.
“Dihari raya ini semua anak ingin merayakan hari kemenangan ini dengan orang tuanya, aku teringan pada ayahku yang sudah meninggal, itulah yang menyebabkanku menangis. Dihari raya terakhir saat bersamanya, ia membelikanku baju berwarna hijau dan sepatu baru. Aku sangat bahagia. Kemudian suatu hari ayahku berjuang bersama Nabi Muhammad Saw, dan gugur dalam perjuangannya, Sekrang ayahku sudah tidak ada lagi, jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?”
Mendengar kisah tersebut, Muhammad Saw bersedih, lalu beliau membelai dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Hapus air matamu, anakku. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang aku katakana, apakah kamu ingin agar aku Nabi Muhammad menjadi ayahmu? Agar kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu? Dan apakah kamu ingin Aisyah menjadi Ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang apa yang baru saja aku katakana?”
Mendengar kata-kata itu anak kecil tersebut berhenti menangis,di tatapnya orang yang  sedang ada dihadapanya, ia pun takjub karena itu benar Muhammad Saw. tanpa mampu berkata-kata ia lalu mengangukan kepalanya sebagai tanpa setuju dengan tawaran Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw amat mencintai anak-anak yatim yang termasuk menjadi rakyat dan umatnya. Ialah seorang kepala Negara sekaligus utusan Allah Swt yang amat memperhatikan orang-orang disekitarnya, dan tidak sekalipun keegoisan yang terpancar dari tingkah lakunya.
Nabi Muhammad Saw adalah seorng kepala Negara sekligus nabi terakhir zaman yang tidak ada bandingannya. Dialah sebaik-baiknya kepada Negara yang amat mencintai rakyatnya dan sebaik-baiknya nabi yang cintanya pada umatnya mengalahkan cinta pada diri sendiri. Dialah satu-satunya manusi yang mampu menyatukan seluruh jazirah arab yang awalnya penuh dengan pertikaian dan permusuhan hanya dalam waktu yang singkat. Dialah teladan terbaik baagi seluruh kepala Negara didunia. Dengan kehidupan sederhana ia menebarkan kedamaian keseluruh penjuru dunia. Maka tak salah jika Michael H.Hart menempatkan Muhammad Saw, di posisi teratas sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.


Abu Bakar As-Shiddiq
                Abu Bakar As-shiddiq terkenal sebagai seorang khalifah yang rendah hati. Ia juga tidak menggunakan jabatannya untuk bertindak  sewenang-wenang kepada semua orang. Ia tidak mengenal “aji mumpung” untuk memanfaatkan keadaan. Menurut banya ahli sejarah, sebelum Abu Bakar As-Shiddiq menjadi khalifah, ia menerima jasa memerah susu kambing para penduduk desa. Setelah dilantik  menjadi khalifah, ada seorang wanita desa yang berkata bahwa Abu Bakar As-Shiddiq  tidak akan memerah susus kambing mereka. Mendengar perkataan tersebut, Abu Bakar As-Shiddiq mengatakab bahwa ia berharap bahwa jabatan Khalifah atau kepala Negara yang saat itu dijabatnya tidak akan mengubah kebiasaannya di masa silam .Terbukti ia tetap memerah susu kambing penduduk desa, meski telah menjadi Khalifah.
                Seperti kebanyakan orang-orang Arab dimasa silam, Abu Bakar As-Shiddiq  juga berprofesi sebagai seorang pedagang sehari setelah dilantik menjadi Khalifah, ia tetap berdagang dan membawa barang-bawang perniagaanya kepasar, beberapa orang  melihat hal tersebut lalu mendekatinya diantanya ia Abu Ubaidah bin Jarrah. Abu bakar Ubaidah lalu berkata “ Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampur dengan urusan berniaga.” Dengan tenang Abu bakar menjawab, “Jika aku tidak berniaga, lalu dengan apa kau hidup? Dan bagaimana akau menafkahi keluargaku?”
                Abu Bakar As-Shiddiq merupakan seorang khalifar, namun ia tidak menuntut gajih atas jabatan yang disangangnya. Padahal memegang estafet kepemimpinan pasca peninggalan Muhammad Saw.
Meski Abu Bakar As-Shiddiq tidak menuntut gaji atas jabatan Khalifah yang ia sangang, para nabi ang lain tetap memikirkan keadannya, Akhirnya ditetapkan gaji untuk Abu Bakar As-Shiddiq yang diambil dari Baitul Mal. Diakhir hanyatnya, ia malah memberikan wasiat kepada Aisyah, Putrinya, agar mengembalikan seluruh barang-barang keperluannya yang didapat dari Baitu Mal. Ia juga mengartakan bahwa sebenarnya ia tidak akan menerima gaji dari Baitul Mal jika tidak dipaksa oleh Umar Bin Khatab agar focus urusah kekhalifahan.
                Selain itu, Abu Bakar As-Shiddiq juga berpesan agar kebun miliknya diberikan kepada khalifah penggantunya, hal itu dilakukan untuk mengganti gaji yang telah ia terima dari Baitul Mal.


Umar bin Khathab
                Singa padang pasir, Umar bin Khathab sang jawara yang amat ditakutidan disegani di kalangan kaum Quraisy. Tubuhnya yang kekar, sikapnya keras, ahli dalam stategi perang, pengetahuannya luas, dan selalu menang dalam adu gulat yang digelar di samping pasar Ukaz ialah kebanggaan kaum Quraisy. Umar bin Khathab menjadi orang yang paling menentang dan membenci bahkan getol menyiksa pengikut Muhammad Saw., sebelum ia Masuk Islam.
                Semenjak Umar bin Khathab masuk islam orang-orang Quraisy yang membenci Islam menjadi segan berkat nama besarnya yang terkenal. Ia yang awalnya membenci Islam berubah menjadi orang yang paling mati-matian membela Islam. Ketika Abu Bakar As-Shiddiq meninggal dunia Umar bin Khathab lah yang dipilih menjadi khalifah.
                Seperti halnya Abu Bakar As-Shiddiq, kehidupan Umar bin Khatab tidak banyak berubah sejak menjadi khalifah. Terkenal dengan panggilan amirul mukminin( pemimpin kaum mukmin), ia menjalani kehidupannya dengan amat sederhana,.
                Suksesnya Umar bin Khathab dalam menjalankan pemerintahan membuat semua orang yang belum tahu parasnya ingin bertemu dengannya. Salah seorang yang ingin bersua dengannya adalah panglima perang kerajaan Persia, Hurmuzan, bersama Anas bin Malik. Hurmuzan dating kemadinah. Ia dating bersama para pemuka kerajaan dengan membawa kemegahan dan kemewahan Raja Persia. Perhiasan mutiasa dan permata melekat didahinya, mantel sutra menutupi pundaknya, dan sebilah pedanga dengan hiasan batu mulia menggantung di pinggangnya. Ia pun membayangkan bahwa seorang Umar bin Khathab yang terkenal si seluruh penjuru dunia tinggal di istana yang mewah dan megah.
                  Setibanya dimadinnah, Hurmuzan dan rombongannya segera menuju kediaman Umar bin Khathab. Tetapi di tengah perjalanan, seorang memberitahu bahwa sang Amirul Mukmin sedang berada dimesjid,  menemui utusan dari kufah. Beserta rombongan, Hurmuzan pun langsung menuju masjid, di masjid, batang hidung sang Singa Padang Pasir pun tidak ditemukan.
                Melihat rombongan Hurmuzan, anak-anak yang berada dimesjid Amirul Mukmininlah yang dicari. Anak-anak tersebut lalu memberitahukan bahwa Amirul Mukmin sedang tidur dengan beranda kanan masjid dengan menggunkan mantelnya sebagai alas tidurnya. Keterkejutan Hurmuzan dan rombongannya tidak terelakan saat melihat lelaki yang dikenal dengan Amirul Mukmin adalah seorang lelaki biasa yang berpakaian seadanya
                Selain dikenal sebagai seorang khalifah yang menjalani kehidupan dengan sederhana, Umar bin Khathab juga dikenal amat cinta kepada rakyatnya. Suatu ketika Umar bin Khathab juga menyamar menjadi masyarakat biasa. Llau ia berjalan  menyusuri rumah-rumah penduduk. Ia ingin tahu keadaan rakyat yang sedang dipimpinnya. Setelah berjalan beberapa lama ia mendengan seorang anak kecil sedang menangis tesedu-sedu. Ia pun pergi kearah suara tangis itu, kemudian menemukan seorang ibu dan anak-anaknya yang menangis karena rasa lapar. Untuk menghibur anak-anaknya sang ibu pura-pura memasak nasi, padahal yang dimasaknya adalah batu. Dengan mencoba menenangkan anak-anaknya yang menangis, sang ibu mencaci-maki khalifah  Umar bin Khathab yang tidak peduli dengan rakyatnya kecil.
                Mendengan keluhan sang ibu, Umar bin Khathab yang sedang menyamar bagaikan tersengat aliran listrik beriburubu watt. Tanpa menunggu lagi, ia beranjak pulang menuju gudang beras. Setibanya di gudang beras, ia memanggul satu karung gandum yang akan diberikan kepada keluarga miskin tersebut.  Pembantunya yang melihat sang khalifah memanggung karung gendum sendiri menawarkan bantuan, tetapi ia menolah sambil berkata “Apakah kemarahan Tuhan terhadapku bisa kau gantikan ketika aku membiarkan rakyatku mati kelaparan, sedangkan aku tidak peduli dengannya? Biarkan aku yang memanggung karung gandung ini sendiri.
                Umar lalu memanggung karung gandum tersebut sambil bercucuran air mata. Setibanya dirumah keluarga miskin tersebut. Ia memasaknya sendiri gandumnya dan menyuapi satu persatu anak-anaknya yang menangis kelaparan sampai kenyang.

Utsman Bin Affan
                Utsman Bin Affan lahir dari keluarga bangsawan terpandang. Ayahnya Affan bin Abi Al-ash adalah seorang saudagar kaya raya di makkah. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia menjadi pewaris tunggal kekayaan ayahnya. Jadilah ia saudagar muda kaya raya yangjuga memiliki sifat pemalu luar biasa besarnya.
                Tentang betapa malunya seorang Utsman bin Affan, Iman Muslim pernah meriwayatkan bahwa Aisya Ra bertanya kepada Muhammad  Saw.
Abu bakan masuk, Engkau biasa saja, dan tidak memberikan perhatian khusus. Lalu Umar masuk, engkau pun biasa saja dan tidak memberikan perhatian khusus. Akan tetapu ketika Utsman masuk, engkau terus duduk dan meratapi pakaiannya, Mengapa? “ Kemudian Muhammad Saw menjawab, “Apakah aku tidak malu kepada orang yang malaikan saja malu kepadanya?”
                Kedermawanan Utsman Bin Affan sebagai khalifah telah dikenal dunia. Ia pernah mengeluarkan uang 35.000 dirham hanya untuk membeli sebuah mata air yang diwakafkan bagi kaum muslimin ketika terjadi kekeringan di madinah. Ia juga pernah mewakafkan 1.000 ekor unta, 70 ekor kuda dan 1.000 dirgam saat terjadi musim paceklik menjelang perang tabuk. Ia juga pernah memberikan gandum yang diangku 1.000 unta untuk fakir miskin yang menderita musim paceklik. Itu semua diberikan secara Cuma-Cuma bukan hanya itu ia juga rela menanggung pembiayaan perang seberang 50% dari harta kekayaannya dan berinisiatif memperindah Majid Nabawi pada waktu itu.
                Utsman Bin Affan dengan ikhlas mendermawankan hartanya untuk kepentingan banyak orang Ia kesampingkan kepentingan dirinya sendiri agar  orang lain juga merakan kekayaan yang ia miliki. Meski memiliki harta kekanyaan melimpah ia tak lantas berfoya-foya dengan  itu semua ia lebih memilih hidup sederhana dan menjadi orang yang suda mendermawakan hartanya. Meski harta kekayaan yang dimilikinya sebelum menjadi khalifah, pada akhirnya dijadikan sumber fitnah oleh orang-orang yang membencinya.
                Kehidupan sederhana Khalifah Utsman Bin Affan terekan dalam berbagai riwayat, Yunus bin ‘Ubaid berkidah bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang para sahabat yang  tidur qailulah (Istirahat di pertengahan siang)  di masjid, plalau a-Hasan menjawab,” Aku meilhat Utsman Bin Affan tidur qailullah di masjid, padahal saat itu, ia sudah menjadi khalifah.  Setelah bangkit, bekas kerikil terlihat menempel di pinggulnya. Kamu pun berkata, ‘lihatlah, ia Amirul  Mukminin, lihatlah, ia Amirul Mukminin”. (HR.Ahmad).
                Selain dikenal sebagai seorang khalifah kaya raya yang memilih hidup sederhana Utsman Bin Affan juga di kenal zuhud dan tawadhu’. Mubarak bin Fadhalah pernah meriwayatkan dari al-Hasan al-Basjri, ia bercerita “Aku melihat Utsman Bin Affan tidur dalam masjid dengan selendang yang terbentang di bawah kepalanya. Kemudian seorang laki-laki datanga dan duduk diatas selendang itu, lalu Laki-laki yang lain datang dan duduk pula diatas selendang tersebut, seolah-olah kedudukan Utsman Bin Affan sebagai khalifah sama dengan mereka. Hati seorang Utsman Bin Affan amatlah lembut sehingga banyak musuh yang memanfaatkannya dan kemudian berontak kepadanya.

Ali bin Abi Thalib
Ali  bin Abi Thalib  adalah khalifah keemapat atau yang terakhir dari periode Khulafaurrasyidin. Ali  bin Abi Thalib  sangat mencintai rakyatnya naik muslim maupun non muslim, adalah cerita tentang Ali  bin Abi Thalib dan pengemis buta. Selain dikenal sebagai seorang khalifah yang mencintai rakyatnya, khalifah Ali  bin Abi Thalib juga dikenal zuhud (memilih hidup sederhana) seperti pendahulu-pendahulunya. Jabatan khalifah yang di emabn tidak dimanfaatkan untuk menimnin kekayaan. Baginya hidup sederhana bagi  para pemimpin adalah sesuatu yang penting dan wajib hukumnya.
Khalifah Ali  bin Abi Thalib  pernah berkata “Allah Swt. Menjadikan diriku imam dan pemimpin. Aku melihat perlunya aku hidup miskin dalam berpakaian, makanan, dan minum sehingga orang miskin mengikutiku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan” apa yang ia ucapkan tersebut bukanlah sebuah omongan belaka
Pernah disuatu hari yang cerah dengan sinar terik matahari, Khalifah Ali  bin Abi Thalib  menemui para sahabat dengan memakai pakaian tebal, kasar dan penuh tambalan. Melihat hat tersebut, para sahabat dengan iba berkata “Ya Amirul Mukminin” tidakkan sebaiknya anda memakai pakaian yang lebih lembut dari pakaian yang anda kenakan?” Mendengar perkataan tersebut Khalifah Ali  bin Abi Thalib  berkata “Pakaian ini menghilangkan kebanggan dariku, membantuku khususkdidalam sholat dan teladan yang baik bagi manusia agar mereka tidak berlebih-lebihan.
                Dalam suatu kesempatan lain, karena udar berhembus dangat dingin, khalifah Ali  bin Abi Thalib
 Duduk sambil menggigil kedinginan dan hanya menggunakan selimut beludru yang sudah dimakan usia. Kemudian seorang berkata, “ Ya, Amirul Mukminin, Allah Swt telah memberimu dan keluargamu bagian  dari harta ini (Baitul Mal) dan Anda bisa berbuat apa saja. Tidak Adnda melihat Anda sedang menggigil kedinginan?” Dengan amat lemah lembut Khalifah Ali  bin Abi Thalib  kemudia berkata, “Demi Allah Swt., Aku tidak mengambil sedikitpun dari harta kalian, dan beludru using inilah yang kupakai saat aku keluar dari Madinah”.

Umar bin Abdul Aziz
                Umar bin Abdul Aziz, Khalifah kedelapan dari dinasti Bani Umaiyah.  Umar bin Abdul Azizd di lantik menjadi khalifah sesaatsetelah Sulaiman bin Abdul Malik Wafat. Sebenarnya Umar bin Abdul Aziz tidak suka dengan pelantikan tersebut, lantas ia memerintahkan orang-orang untuk berkumpul dimasjid. Setelah semua berkumpul, ia berkata “Wahai sekalian umat manusia! Aku telah di uji untuk memegang tugasi ini tanpa pandangan diriku terlebih dahulu, dan aku juga tidak meminta jabatan ini, seta aku tidak didudukan bersama umat terlebih dahulu. Sekaran aku batalkan baiat yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang khalifah yang baik diantara kalian.”
                Tiba-ttiba tanpa disangka-sangka seluruh orang yang hadir tersebut serentak berkata, “Kamu telah memilih engkau, wahai Amirul Mukminin, dan kami juga ridha kepadamu. Oleh karena itu perintahlah kamu dengan kebaikan dan keberkahan.” Mendengar jawaban tersebut, mau tidak mau akhirnya Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah yang ia anggap sebagai ujian tersebut
                Sesaat setelah dilantik Umar bin Abdul Aziz pulang kerumah dan menangis, Istrinya dengan serta merta bertanya, “Apa yang kau tangisi wahai Amirul Mukminin?” Lalu ia Menjawab, “Wahai Istriku aku telah diuji dengan jabatan ini, dan aku sedang teringat kepada orang-orang miskin, ibu-ibu janda yang memiliki banyak anak, aku juga teringat orang-orang dalam tawanan para fuqara’kaum muslimin, aku tau mereka akan mendakwaku diakhirat kelak, dan aku bimbang tidak bisa menjawab hujjah-hujjah mereka sebagai khalifah, karena aku tahu yang mebela mereka adalah Muhammad Saw.”  Mendengar jawaban tersebut Istrinya juga ikut menitikan airmanta.
Setelah diangkat menjadi Khalifar Umar bin Abdul Aziz dikenal menjalani kehidupan dengan sederhana dan amat mencintai rakyatnya. Pada suatu malam saat ia sedang menyelesaikan tugasnya di ruang kerja istana, putranya datang kepadanya, Ia pun bertanya kepada putranya, “Untuk urusan apakah kau datang ke sini putar ku?” untuk urusan Negara atau urusan keluarga?” Putranya kemudian menjawab, “Urusan Keluarga Ayahanda.”
Mendengar jawabatn putranya tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan serta merta mematikan lampu didalam ruang kerjanya, Putranya dengan keheranan bertanya,” Kenapa Ayahanda memadamkan lampu didalam ruangan ini?” Ia kemudian menjawab, “Putraku Lampu yang ayah pakai ini untuk bekerja adalah milik Negara. Minyak yang digunakan pun dibeli dengan uang Negara. Sedangkan, perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga.
Khalifah lalu memanggil pembantunya untuk mengambil lampu dari ruangan dalam. Ia kemudian berkata “Nah, lampu ini yang sekarang kita nyalakan ini adalah milik keluarga, Minyaknya dibeli dengan uang keluarga pula, silahkan berbeicara putraku.”
Yunus bin Abi Syaib pernah berkata, :Sebelum menjadi khalifah, tali celanya masuk kedalam perutnya yang besar. Tapi setelah menjadi Khalifah, ia sangat kurus. Bhkan jika saya menghitung tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, psaya bisa menghitungnya”. Tentu hal tersebut menandakan bahwa khalifah Umar Bin Abdul Aziz tidak berfoya-foya dengansegala kewenangan yang ia miliki sebagai seorang khalifah. Ia lebih memilih hidup apa adanya dan memikirkan dengan sungguh-sungguh tanggung jawab sebagai kepala Negara.
Pada suatu hari usai sholat jum’at dimasjid, salah seorang jama’ah bertanya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memakai pakian amat sederhana. “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu. Mengapa tidak engkau gunakan untk sekedar berpakaian bagus?” Kemudian ia menjawab, “Sesungguhnya perilaku sederhana yang paling baik adalah saat kita kaya,dan sebaik-baiknya pengampunana adalah saat kita berada pada posisi kuat.
                Ketika wafat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak meninggalkan warisan harta kepada anak-anaknya. Disaat menjelang ajal ada seorang yang bertanya kepadanya” Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?” Ia pun menjawab, “Jika anak-anakku orang-orang shalih, maka Allah Swt lah yang mengurus orang-orang shalih tapi, jika mereka orang-orang yang tidak shalih aku tidak mau meninggalkan hartaku untuk orang-orang yang mendurhakai Allah Swt, dan menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah Swt.