Jumat, 15 Februari 2019

Mu husband

Bila ada kekuatan yang sangat kuat selain cinta kita
Adalah cinta Allah pada hambanya.
Kutulis dalam niat ini
Merubah haluan tujuan ini
Yang mampu menguatkan n memperkokoknya ialah
Allah tujuan nya.
Malu diri ditelanjangi seperti ini
Malu diri ini selalu dipersalahkan
Dan bekerja diawasi melebihi seperti pembantu..
Marah. .
Kecewa..
Agamanya yg dimiliki..
Pendidikan yang digenggam dengan rasa hormat. .
Dihempaskan seperti dengunguan domba...
Namun saya ingat ketika Nabi musa menyerah untk mengadapi umatnya Allah memerintahkan ikanan nun untuk memakan nabi musa dan musa pun berfikir dan lembali berjuang mmperjuangkan agamanya.. 
Iya..  Jika Allah lah yang menakdirkan pulang  krn  maka disaat itu pun akan pulang.
Namun jika Allah belum menakdirkannya saya akan selalu ada menjadi jembatan hijrahmu..  Menuntun mu..
Meski diri sudah ditelanjangi dan dihina ataupun difitnah saya hanya akan mendengar dan tersenyum .
Nabi muhammad ketika berdakwa di setiap langkahnya di hina oleh pamannya abu lahab ttp sabar..
Karena menghadapi mu mendekatkan ku pada rabb ku..  Dan merubah tujuanku..
Ocehan mu akan dirubaah menjadi melodi cinta
Amarah mu akan dirubah oleh penglihatanku surga
Ludahannya akan tergambar air yang mengalir..
Aib2 yang mestinya semoga menjadi amal ibadah.  Menuju surga..
Bissmillah.. 

Kamis, 08 November 2018

Dia

Dia terhebat
Kasih sepanjang hayat
Maaf tiada tara
Peluk hangat yg di damba

Oh... 
Mamah..
Malaikat tak bersayap yang selalu trgoreskan luka..
Oh...
Mamah...
Kasihku..  Belahan hidupku..
Cinta dan maaf tiada tara untk anak mu..
Doa sepanjang hembus nafasmu..
Pengorbanan trhebat selalu kau beri tanpa pamrih..
Mamah.. 
Kelak kau akan di jannah ilahi Rabi
Penghuni cercantik didalamnya..
Oh mamah..
Aku rindu...  Jgn pernah lepas kan aku dalam hangat kasih sygmu..
Oh mamah..  Pelukmu,  ciummu waktu yg hilang tanpamu aku harap dlm sela sela waktu yg hilang. 
I miss u mamamh..

Jumat, 02 November 2018

Pojok Cahaya

Laskar pangeran berkuda putih
Berpacu dengan gagah melahkah menghampiri seokor burung yang tak bersayap.. 
Bertiup cinta dan doa dalam setiap hembusan nafasnya.. 
Tak bnyak balasan yg didapat hanya kotoran dan bau unggas.. Namun ia tak pernah jenuh meski burung itu terbang.. 

Di senyap-senyap doa
Kepala menunduk,  kaki berlutut memohon ampun pada Allah yg telah memberikan cahaya mentari di lembaran hidup nya.. 
Ohhh..  
Kasih kuncup hidupku.. 
Ingin rasanya malam ini aku terbang bersama putaran waktu untuk mengulang hari kemarin bersamamu.. 
Ingin rasanya malam ini aku berbaring di pangkuanmu.. 
Meneteskan air mata pada kakimu..
Mencium aroma tubuhmu dan mendekapmu.. 
Oh...
Rabb ku kehidupanku.. 
Maafkan rasa syukurku untuk nya..  Yg tidak dapat membahagiakannya.. 
Oh, 
Puing serpihan hidupku.. Izinkan ku memulai nya kembali..  Y..  Y.. 
Engkau yg nyata untuk ku yang Tuhanku beri.. Izinkan aku berlutut mencintaimu dengan Allah diantara doa2 untk memelukmu. 

Sabtu, 06 Januari 2018

Mutiara segumpal darah

Pemberontakan dan kemarahan yang dipendam membuat langkah tak terarah, menjauhkan diri dari sang pencipta.
Jauh, jauh semakin jauh membengkokkan jalur langlah yang ditapaki tiba pada kesesatan yang nyata.

Kemarahan, kesedihan, kebingungan bergemuruh dalam ombak yang siap menerkam, sampai pada penyadaran itu hanyalah kesia-sia an.

Rasa letih melangkah mengharuskan berlutut dan tertatih, terdiam dan membisu dalam penyepian diri yang tak terjamah.
Hati yang begitu terluka, pengAbu an diri dalam tetes sebuah kebencian.

Sampai pada Tuhan menjentikkan jari, menangkap roh yang tiada arah dan tujuan itu.
Saat gumuruhan yang kotor menjadi anai yang berterbangan terganti menjadi tetes sebuah perjuangan, Segumpal mutiara.

Menyeka debu yang menempel pada tumpukan2 tak berpenghuni.
Menyerahkan diri pada sang pencipta, memadamkan amarah yang membumbung, memadamkan kobaran dendam dalam jiwa, meniup api yang berkobar, dan mencairkan kembali jiwa yang menjadi batu.

Mempercayakan Tuhan membuat jalur kembali pada jalurn yang ditapaki.
Memantapkan kembali kaki yang melangkah, dengan mutiara cinta yang tersenyum manja, hingga saat  ada penggengam tangan yang ulung  memeluk dengan cinta karena Rabb-Nya. Bukan masalalunya.

 Karena aku bukanlah penjahat
namun aku pernah terserat

Senin, 12 Juni 2017

Mencintaimu dengan Hormat


Ini bukanlah sebuah perpisahan
Ini bukanlah akhir dari sebuah kisah

Ini adalah sebuah cinta

Rasa luka, duka, ini tak dapat mengukirkan sebuah kesedihan dri sebuah perpisahan yg tidak dapat kau temui lagi ia didunia.

Biarkan kuhapus perihnya.. 
Biar ditelan pahitnya..
Untuk menyatunya dua hati di jannah Illahi..

Namun jika tidak, bukti cinta ini kan selalu ada nama mu dalam sujud akhirku, kan perluas ilmu sebagai amal yg mengalir untukmu, perdalam perjalanan ini untuk dapat mencarimu di akhirat nanti..

Sabtu, 03 Desember 2016

Kisah Rasulullah SAW sebelum meninggal

Mungkin kisah ini sdh berulang kali kita baca..
Tp gk pernah bosan dan selalu disertai kesedihan dan air mata

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal._*

Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi.  beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba2 bangun seorang lelaki yang bernama *UKASYAH,* seorang sahabat *mantan preman* sebelum masuk Islam, dia berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,

Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.

Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja kita menangis.

Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Dosa-Dosa Khas Wanita

Beberapa Dosa2 Khas Wanita yang Paling diMurkai Allah;
         
  Dikutip dari  Akhmad Khotib

1.Syirik

2.Murtad

3.Berpergian tanpa izin suami

4.Berpergian tanpa Mahram

5.Mencukur alis dan bertato

6.Menyerupai Laki-Laki

7.Berdandan Menor

8.Berpakaian tapi telanjang

9.Berpakaian berlebihan

10.Tidak menutup aurat

11.Menyemir rambut dengan warna hitam

12.Meratap dan meraung-raung

13.Tidak menzakati perhiasan

14.Menolak ajakan suami

15.Mengumbar rahasia persetubuhan

16.Bersetubuh dihadapan orang lain

17.Bersetubuh saat haid

18.Bersetubuh pada siang puasa

19.Bersetubuh saat melakukan ibadah haji

20.Masturbasi

21.Oral Seks

22.Anal Seks

23.Lesbian

24.Zina

25.Selingkuh

26.Poliandri

27.Durhaka kepada orang tua/Mertua

28.Jelek perangai kepada saudara

29.Jelek perangai kepada suami

30.Memperlakukan suami dengan buruk

31.Menyakiti hati suami dengan lidas

32.Menjelek-jelekkan suami

33.Berprasangka Buruk kepada suami

34.Berdandan untuk selain suami

35.Durhaka pada suami

36.Nusyuz (pengingkaran dan perlawanan)

37.Memasak makanan haram

38.Tidak memedulikan najis

39.Membunuh suami sendiri

40.Mendorong suami untuk korupsi

41.Memanfaatkan kelemahan suami untuk menghancurkan

42.Tidak adil diantara anak

43.Berlaku kasar kepada anak

44.Menelantarkan anak

45.Tidak mendidik anak dengan baik

46.Memaksa anak berbuat dosa

47.Melaknak anak shalih

48.Tidak belajar ilmu tentang haid

49.Mengugurkan kandungan(aborsi)

50.Membatalkan pernikahan karena kepergian suami

51.Permintaan talak tanpa sebab yang diperbolehkan

52.Miskin rasa malu

53.Memandang dengan penuh nafsu pada lelaki lain

54.Berkhalwat dengan lelaki tanpa mahram

55.Mengadu domba

56.Ngerumpi

57.Menggunjing (Ghibah)

58.Memfitnah

59.Buruk kata dan ucapan

60.Kikir

61.Berlagak sok wanita shalihah

Sumber;
Khotib,Ahmad, 2016, dosa-dosa khas wanita yang paling dimurkai Allah, Yogyakarta, Safira, Hal.14-226